Translate

Jumat, 14 September 2012

hiruk pikuk kehidupan



“Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban.”
Lirik tersebut adalah sepenggal dari lagu belanja terus sampai mati_efek rumah kaca. Sekilas memang tidak  ada yg special, tapi kalau dipikir-pikir lagi maknanya dalam loh.
Kita mau tidak mau terus tergerus oleh kehidupan urban. Yah kalau secara kasarnya everything needed money. Seakan-akan perumpamaan waktu adalah uang kini sudah jadi realita, bukan perumpamaan lagi.
“uang bukanlah segalanya, tapi segalanya memakai uang”, betul tidak?
Contoh, di kota besar apa sih yg gratis? (kecuali bernafas, melihat, mendengar, dsb .karena semua itu karunia illahi. Itu pun kalau kamunya sehat. Kalau sakit mah tetap saja bayar. Contoh, bernafas saja beli oksigen /tabung). Hhe
Selain itu kaya-nya tidak ada lagi yg gratis. Makan jelas harus pakai uang, nge-kost wajib bayar, sekolah, ongkos, jajan, bahkan kencing-pun harus bayar (di wc umum). Gila, segalanya pakai yg namanya kertas ajaib. Makanya orang berlomba-lomba buat nyari ini barang berharga yg dinamakan MONEY dengan berbagai cara. Ada yg pakai cara serong kanan serong kiri, senggol kanan senggol kiri, bacok sana bacok sini, dll.
Gila, ternyata benar harta itu bikin buta. Saya kira Cuma cinta saja yg bisa bikin buta, ternyata uang juga bisa. Wah sakti  yah si-uang ini.
Uppsss, tapi bentar. Sekarang mah pacaran juga butuh uang loh, gak cukup bermodalkan tampang, apalagi Cuma berdasarkan cinta. Hhe
Terus apa kita juga akan tetap terseret dengan keadaan seperti ini?
Kalau tidak, bagaimana cara kita buat melawan dunia yg sudah semakin kejam ini?
Apa tanpa uang kita mampu bertahan hidup?
Dan banyak lagi pertanyaan yg harus kita renungkan dan cari jawabannya.
Tapi ingat, waktu, hidup, kebahagiaan, tidaklah hanya bersumber dari uang saja, dan tidak akan bisa dibeli dengan uang berapapun nominalnya. So, jangan sampai kehilangan sesuatu yg sangat berharga di hidup kita Cuma hanya demi sejumlah uang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentar anda